Revolusi! Gebrakan Suara Melalui Majalah Oranye 2020
Senin, 10 Agustus 2020

Oranye adalah UKM Fikom yang bergerak pada bidang jurnalistik. Sebagai salah satu peminatan jurusan di Fikom, UKMF ini sangat aktif dalam mempraktikkan dan mengasah kemampuan menulis serta meliput para anggotanya. "Sekedar fakta lucu, tajuk tema majalah Oranye kali ini, Revolution, berasal dari salah satu siaran podcast yang aku dengarkan pada akhir pekan. Saat aku tengah mendengarkan dengan seksama, ia menyerukan, “it’s revolutionary!” dengan sangat lantang. Hingga kini suaranya masih terdengar di telingaku dan terbayang di pikiranku, bahkan ketika aku sedang menulis editor’s noteini. Revolutionmemiliki arti secara sederhana adalah ‘gebrakan’ perubahan menuju arah yang baru. Sejalan dengan itu, aku bersama dengan teman-teman tim Majalah Oranye, bekerja sama untuk menulis dan memilah isi konten yang akan kami garap dalam majalah ini. Harapannya, tulisan-tulisan yang disajikan dapat menghibur dan membantu pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berevolusi menjadi orang yang peduli dengan sesama, lingkungan, negara, dunia, dan pada sumbunya peduli kepada diri sendiri dengan berkemauan untuk menjadi yang lebih baik,” tulis Sintya Frank, Editor-in-chiefmajalah Oranye 2020.

Sejak awal pembagian tugas, setiap anggota sudah memiliki perannya masing-masing, dari penyusunan tema majalah, penggarapan inspirasi untuk artikel-artikelnya, proses penyuntingan, layouting, dan finishing. Menariknya, artikel-artikel yang telah dikumpulkan terbagi menjadi dua rubrik yaitu, Produktivitas & Gaya Hidup serta Opini. “Produktivitas dan Gaya Hidup berbicara tentang cara seseorang menjalani hidupnya dengan maksimal dan lebih bermakna, khususnya sebagai anak muda di bangku perkuliahan. Sudah sepantasnya menyusun hidup ke arah yang lebih baik. Sementara rubrik Opini dikhususkan untuk membahas tentang isu sosial yang sedang terjadi di sekitar kita. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya merupakan pemikiran dan hasil tulisan seseorang. Dengan melabelinya sebagai opini, kita berharap pembaca dapat take that into some account while reading them. Terlebih karena topik-topik yang diangkat dapat dikatakan sedikit sensitif,” kata Sintya saat ditanya secara daring.

“Kesulitannya mungkin kurang leluasa untuk berdiskusi karena terhalang jarak. Meskipun bisa melakukan panggilan ataupun chattingtapi tetap saja akan menjadi hambatan saat merancang dan melakukan layoutingmajalah. Saya berharap agar Oranye dapat menjadi UKMF yang mewadahi para jurnalis dan penulis muda lainnya, melahirkan tulisan-tulisan yang kritis dan juga membangun,” pesan Sintya. Bagi yang ingin membaca majalah ini, dapat diakses melalui: 
https://drive.google.com/file/d/19yCN_D26cB8EOegB7Jhurh8K3FT009XI/view (CA)

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018