Ancaman Nyata Hoaks, Pemaparan Dr. (Can) Yugih Setyanto, S.Sos., M.Si
Selasa, 15 September 2020

 

Kejadian mengamuknya oknum TNI di daerah Ciracas beberapa waktu lalu kembali mengusik keprihatinan kita akan betapa mudahnya berita bohong (hoaks) memberi dampak yang buruk. Bukti nyata ini menjadi peringatan kesekian kalinya bahwa hoaks merupakan pemicu nyata bahaya perpecahan dan kehancuran di masyarakat. Terlebih yang sangat disayangkan adalah hoaks ini justru disebarkan oleh oknum dari sebuah institusi yang menjadi garda depan dari penjaga keutuhan Indonesia. Untungnya pimpinan TNI cepat merespons peristiwa ini dan telah diambil langkah-langkah hukum. Namun, korban dan kerugian sudah terjadi. Masyarakat dan negara menjadi korbannya.

“Hoaks sangat subur di media sosial dimana setiap individu bisa mengakses dengan mudah. Materi hoaks mudah diterima serta mudah pula disebar. Naluri ingin tahu manusia dapat menjadi penyebab masyarakat mudah mengonsumsi hoaks. Rasa ingin tahu ini memotivasi individu untuk mencari-cari sebuah informasi yang menjadi ketertarikannya. Oleh sebab itu hoaks selalu seputar kejadian di sekitar kita. Penjelasan alasan penyebab penyebaran hoaks dikarenakan seseorang cenderung melihat ‘bias informasi’ dan hanya menaruh perhatian, serta menyebarkan informasi yang sesuai dengan kepercayaannya. Bahkan meski informasi tersebut palsu,” tulis Dr. (Can) Yugih Setyanto, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan Fikom Untar, melalui artikelnya yang dimuat dalam Kompas.com.

Kehancuran yang diakibatkan hoaks sudah beberapa kali terjadi. Ada pihak-pihak tertentu yang masih belum menyadari bahkan secara sengaja membuat hoaks dengan alasan-alasan yang sulit dipercaya. Pertanyaannya adalah mengapa kita mudah sekali mempercayai hoaks. Jawabannya tentu ada beberapa alasan. Semakin banyaknya informasi yang menyebar ditambah semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi bisa jadi salah satu penyebabnya. Kemajuan teknologi seperti semakin canggihnya alat komunikasi dan berkembangnya media sosial membuat siapa saja bisa membuat berita. Setiap individu atau kelompok dengan mudahnya membuat sebuah informasi lalu ditayangkan melalui media sosial. Ini menyebabkan hoaks rentan terjadi.

Kita sebagai masyarakat juga harus belajar dari berbagai kejadian ini. Mari kita cerna dan pahami setiap informasi yang diterima sebaik-baiknya. Sebaiknya kita mengikuti informasi dari berita-berita yang disajikan media yang memang memiliki reputasi untuk dipercaya. Media cetak dan elektronik (TV dan radio) bisa dijadikan acuan akan kebenaran informasi yang ingin kita ketahui. Adapun media online agar kita dapat memilah dengan cermat. Pilihlah media online yang benar-benar memiliki reputasi akan kebenaran beritanya, seperti Kompas.com atau beberapa media terpercaya lainnya. Setiap individu harus menjadi "lembaga sensor" bagi dirinya sendiri. Dalam level keluarga, orangtualah yang berperan memberi pemahaman, pengertian dan pengawasan pada anak-anaknya. Sungguh hoaks merupakan ancaman nyata bagi siapa pun termasuk masyarakat yang tidak mengerti apa-apa. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hoaks adalah Ancaman Nyata," ditulis oleh Dr. (Can) Yugih Setyanto, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan Fikom Untar. Artikel lengkapnya dapat dibaca di: http://kmp.im/AGA1YD

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018