Ragam Kisah Pemenang dari Fikom Untar pada Lomba Dies Natalis ke-61 Untar
Jumat, 02 Oktober 2020

 

Aktivitas perlombaan memang menjadi salah satu kegiatan yang kerap dilakukan oleh para sivitas akademika untuk mengasah skill, menambah pengalaman dan juga relasi. Pada ulang tahunnya yang ke-61, Universitas Tarumanagara mengadakan Lomba Konten Digital yang mengusung tema “Untar Kini dan Esok Berlandaskan Nilai IPE dan Budi Luhur.” 

Kompetisi ini memiliki tiga cabang perlombaan yaitu video singkat, poster, dan esai. Pada 2 Oktober 2020, melalui akun Instagramnya, diumumkanlah jajaran pemenang dari setiap cabang perlombaan, tiga juara utama, dan satu juara favorit.

Tetapi sangat mengagetkan bahwa para mahasiswa dan dosen Fikom Untar sendiri banyak yang memenangkan perlombaan. Pada kategori video, juara ketiga dimenangkan oleh Tiyo Sajdahfath dan juara pertamanya oleh Jonathan Victorius.

Pada kategori poster, juara ketiga dimenangkan oleh Ibu Wulan Purnama Sari, S.I.Kom., M.Si., seorang Dosen Fikom Untar. Selain itu, juara favorit pada lomba cabang ini dimenangkan oleh Andreas Putra Muljono. Lalu dan pada kategori esai, juara ketiga dimenangkan oleh Sarah Santosa dan juara pertama oleh Jackson.

Ketika ditanyakan soal motivasi setiap orang dalam mengikuti lomba ini, para pemenang memberikan jawaban yang berbeda-beda. “Pas aku tahu ada lomba poster dan kebetulan gak ada registration fee jadi iseng mau ikut. Pengen tahu kemampuan membuat posterku itu udah layak belom sih untuk diperlombakan,” sahut Andreas. 

Lain halnya dengan Tiyo, ia berkata, “Motivasi saya adalah untuk menambah karya dan portfolio. Selain itu saya juga mengajak teman untuk ikut terlibat dalam lomba ini dan kebetulan waktunya sama-sama sedang tidak terlalu sibuk maka kita sempatkan untuk tetap berkarya.”

Jackson, mahasiswa Fikom Angkatan 2020 mengatakan, “Sejujurnya, motivasi saya ikut lomba ini berasal dari penyesalan. Singkatnya karena dulu saya kurang aktif di SMA dan ingin coba mengaplikasikan skill menulis yang telah saya pelajari secara tidak langsung dari Andrea Hirata, novelis favoritnya, saya pun mengikuti lomba esai ini. Dan puji Tuhan, hasilnya tidak sia-sia.”

Selain itu, Ibu Wulan mengatakan, “Saya ingin menyemarakkan HUT Untar ke-61 dan ikut ambil bagian sebagai mantan mahasiswa Untar yang kini berprofesi sebagai Dosen Untar. Pastinya, gak cuma mahasiswa yang bisa ikut lomba, tapi dosen juga.”

Perasaan senang yang bercampur aduk dengan kaget banyak dirasakan oleh para pemenang. Hal ini ternyata disebabkan oleh skill sederhana yang dimiliki oleh mereka. Ada yang memang sudah memiliki pengalaman menulis dan mengedit video hingga poster, tetapi ada juga yang memang ikut berlomba karena memiliki pemikiran ‘nothing to lose.’

“Untuk seluruh mahasiswa Indonesia, satu hal yang harus kita sadari betul bahwa tantangan itu akan ada dan semakin berat. Pada saat kita sudah sadar akan hal ini, kita harus semakin giat dan semangat untuk memberikan yang terbaik dalam diri kita yang bisa dimulai dari belajar dan aktif di dunia kampus,” pesan Sarah.

Tiyo sendiri juga berpesan untuk terus berkarya tanpa peduli hasilnya bagus atau tidak. “Yang penting mencoba, berusaha dan percaya dengan potensi diri kita,” tutupnya. Tetapi berbeda dengan Tiyo, Jackson berpesan, “Jangan menjadi yang terbaik, tapi jadilah yang paling beda.”

Mendengar kisah di balik berbagai prestasi tersebut menjadi sebuah memori berkesan tersendiri bagi para pemenang. Meskipun motivasi di belakang partisipasi berbeda-beda, sejumlah cerita ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus berkarya dan maju meskipun sedang di masa pandemi. (CA)

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018