Manajemen Stres di Dunia Pendidikan
Senin, 04 Januari 2021

  

 

Masa pembelajaran daring (online learning) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah mencapai 10 bulan sejak diberlakukan April 2020. Ada banyak kisah yang kurang menyenangkan terjadi, salah satunya soal gangguan kesehatan mental dan stres pada pelajar dan mahasiswa, yang harus menjalani kegiatan belajar secara daring dalam proses tersebut. 

 

Bayangkan, para pelajar dan mahasiswa yang dalam kondisi normal biasanya saling bertemu dan berinteraksi di dalam dan di luar kelas, kini hampir setahun lamanya hanya bisa melakukan video call atau chatting di tempat kediaman masing-masing. 

 

Dampak dari karantina ini membuat mereka terpisah secara emosional dari teman serta menurunnya kinerja dan waktu belajar. Salah satu contoh, pandemi Covid-19 membawa dampak nyata terhadap mahasiswa fakultas kedokteran yang harus melakukan PJJ. Menurut penelitian M. Czeisler dan kawan-kawan tentang dampak karantina pada kesehatan mental dan perilaku belajar mahasiswa kedokteran (mental health, substance use, and suicidal ideation during the Covid-19 pandemic) di Amerika Serikat, 24-30 Juni 2020, ditemukan sebanyak 23,5% mahasiswa kedokteran merasa depresi dan putus asa (Media Indonesia, 2020).

 

Ada juga beberapa contoh kasus lain yang lebih ekstrim. Oktober lalu terjadi kasus bunuh diri siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Timur, akibat stres karena banyak tugas dari sekolah daring yang dijalaninya (suara.com, 2020). Masih di bulan yang sama, terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan siswa SMA berusia 16 tahun di Gowa, Sulawesi Selatan. Ironisnya, korban merekam aksi bunuh dirinya saat menenggak racun dan mengatakan bahwa dirinya mengalami depresi dengan beban tugas daring dari sekolahnya (Tribunnews.com, 2020). Tak hanya siswanya, stres juga melanda orang tua dan keluarga siswa yang bersekolah daring. Pada Agustus lalu, terjadi pembunuhan anak berusia 8 tahun yang dilakukan oleh ibu kandungnya karena kesal lantaran korban susah diajar saat belajar daring (Kompas.com, 2020). 

 

Dari gambaran di atas, sepertinya Covid-19 telah meningkatkan kecemasan banyak siswa dan mahasiswa yang menjalani kegiatan belajar daring. Bahkan para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, lebih lama dari pandemi itu sendiri. Apakah benar separah itu kegiatan belajar daring hingga tidak ditemukan efek positifnya bagi siswa/siswi maupun mahasiswa? Penulis mencoba membuat perbandingan antara efek positif dan negatif dari kegiatan pembelajaran daring selama masa pandemi ini. 

 

Jika para peneliti dari Uni Eropa menganggap kegiatan belajar daring kurang bermanfaat bagi siswa/siswi peserta pendidikan dasar, tidak demikian halnya dengan peserta pendidikan tinggi. Menurut Vishal Dineshkumar Soni dalam publikasi ilmiahnya berjudul Global Impact of E-learning during COVID 19 yang terbit di SSRN Journal dipublikasikan pada 18 Juni 2020, dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran daring telah membuka kesempatan bagi para pengajar untuk memanfaatkan platform e-learning untuk menyebarkan pendidikan kepada siswanya.

 

E-learning sendiri mengacu pada sistem pembelajaran yang dilakukan melalui media elektronik. Dengan platform ini, guru dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan ketrampilan belajarnya melalui cara-cara yang inovatif. Hal ini dapat diartikan, konsep e-learning telah berhasil membawa perubahan besar dalam metode pengajaran dan pembelajaran tradisional. 

 

Manfaat dari kegiatan belajar daring pun disampaikan oleh Director of Studies Yayasan Pendidikan Mulia Bakti (YPMP) Kristina. Menurutnya, terdapat 3 manfaat belajar daring, antara lain; (1) Sistem belajar daring dapat menjaga perilaku anak tetap disiplin dan teratur, karena ada kegiatan rutin yang tetap dilakukan di rumah, dari mulai belajar daring hingga mengerjakan tugas; (2) Kegiatan belajar di rumah dapat menjaga perkembangan otak anak serta tetap produktif menciptakan akar-akar di sel otak; dan (3) Belajar daring mampu membuat anak dan orang tua semakin dekat karena orang tua yang paling bisa membantu anak saat belajar di rumah (Tribunnews, 2020).

 

Jika kegiatan belajar daring memiliki sisi positif dan negatif, yang menarik untuk ditanyakan adalah sejauh mana siswa/siswi dan mahasiswa paham bahwa dirinya stres? Hal ini menarik untuk dikaji, karena ketika ditanyakan kepada sekelompok siswa SMA, mereka justru mempertanyakan konsep stres itu sendiri. Dalam sebuah webinar, penulis berkesempatan berdiskusi dengan siswa/siswi kelas X SMA Strada St Thomas Aquino di Pabuaran, Kota Tangerang. Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta, di antaranya; (1) Bagaimana cara mengatasi stres karena diri sendiri? (Stres yang berakar dari diri sendiri), (2) Bagaimana saya bisa tahu saya mengalami stres atau tidak? Ciri-ciri orang yang mengalami stres seperti apa?, (3) Apa bedanya berfikir negatif dan berfikir realistis?, (4) Kalau merasa tidak ingin ngobrol dengan orang atau merasa marah seharian, apakah itu tergolong stres?, (5)  Bagaimana cara menaruh target tinggi tetapi tetap tidak stres untuk mencapainya?

 

Jika menilik pada jenis pertanyaan yang diajukan, tampaknya cukup mewakili kegalauan anak-anak muda ini terhadap stres. Menurut dokter spesialis kejiwaan dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM Tjhin Wiguna, definisi stres sendiri merupakan kemampuan beradaptasi dalam sebuah kondisi. Jika seseorang dapat beradaptasi, artinya dia bisa mengelola stres dengan baik. Namun jika kesulitan beradaptasi, akan memicu gangguan jiwa yang jenisnya bervariasi. Jadi, stres bukan merupakan gangguan jiwa, seperti yang dimaksudkan banyak orang (Kompas.com, 2014).

 

Dari fenomena dan kajian di atas, bagaimana manajemen stres yang baik supaya siswa/siswi lancar dalam mengikuti kegiatan belajar daring? Jawabannya singkat, yakni dengan cara menjaga supaya mekanisme psikisnya berjalan harmonis. Caranya, dengan melakukan kegiatan yang disukai (berkebun, melukis, memasak, dll), mengubah jadwal rutinitas, batasi kegiatan yang dapat memicu stres dan jangan lupa berolahraga. Semoga kita semua bisa hidup sehat tanpa stres di masa datang.


Penulis: Diah Ayu Candraningrum, ST., MBA, M.Si.

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/opini/373668/manajemen-stres-di-dunia-pendidikan

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018