Memerangi Badai Hoaks di Era Media Sosial
Selasa, 16 Februari 2021

 

Oranye Fikom Untar mengadakan Education Day yang bertajuk “Be a Critical Journalist in Eradicating Hoax” bersama Wartawan Harian Kompas, Kelvin Hianusa dan Social Media Specialist Brilio.com, Alvianne Suseno pada Sabtu, 13 Februari 2021.

 

Dalam kegiatan ini, peserta belajar mengenai bagaimana media sosial menjadi salah satu media utama biang penyebar hoaks, dan bagaimana jurnalis berperan dalam membawakan berita dengan tepat dan akurat.

 

Alvianne berpendapat, “Kalau kita belajar berita, jangan lupa untuk selalu cek beritanya. Berita hoaks umumnya bikin panik, mengarah ke satu sisi padahal harusnya netral. Selanjutnya, tunggu berita resmi di televisi atau terpecaya. Aku yakin kalau sudah tayang di televisi, gak mungkin mereka rela mempertaruhkan nama baik mereka, pasti mereka menjaga banget dalam menyebarkan berita yang benar.”

 

“Apa sih bedanya hoaks zaman Soekarno, Soeharto, dan sekarang? Hoaks yang kita hadapi sekarang lebih menyeramkan karena 70% rakyat mengambil berita dan percaya berita itu dari media sosial, bukan dari media yang kredibel. Padahal media sosial sudah menjadi sumber hoaks terbesar,” tutur Kelvin Hianusa.

 

“Ketika ada informasi bohong dari grup keluarga bahkan dari orangtua sendiri menandakan hoaks sudah sangat dekat dengan keseharian kita. Yang lebih menyeramkannya lagi, datang dari riset yang dilakukan Institut Teknologi Massachusetts pada 2018, bahwa hoaks menyebar 6 kali lebih cepat di Twitter daripada berita aslinya,” lanjutnya.

 

“Karena itu, tugas jurnalis, dengan maraknya hoaks tentu tugasnya menjadi lebih berat. Kalau kita lihat, hoaks dapat datang dari mana saja dan sulit dikontrol sekalinya masuk ke ranah media sosial. Mirisnya, berita hoaks lebih menggugah emosi yang cenderung subjektif, mengeksploitasi emosi pembacanya. Sehingga orang akan lebih tergugah dibandingkan membaca berita aslinya,” tutupnya. (CA)

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018