Radio vs Podcast: Masih Relevan Gak Sih di Era Digital?

Jakarta, 31 Oktober – Fikomers, jujur nih, kapan terakhir kali kalian dengerin radio, tapi bukan pas lagi kejebak macet di mobil? Atau jangan-jangan, kalian lebih sering scroll Spotify buat cari podcast favorit? Di tengah dunia yang serba bisa diputar kapan aja, radio dan podcast sama-sama masih bertahan. Tapi, siapa sih yang sebenarnya paling relevan buat kita sekarang? Yuk, kita bahas bareng! 

Di zaman serba digital begini, radio dan podcast sama-sama jadi pilihan media audio, tapi karakternya beda banget. Podcast fleksibel, bisa didengerin kapan aja. Radio punya kelebihan di siaran langsung dan interaksi real-time. Menurut Pak Farid Rusdi, S.S., M.Si., dengerin radio itu punya sensasi tersendiri karena ada kedekatan antara penyiar dan pendengarnya.

Pak Farid sendiri pernah jadi reporter radio swasta pada 1999-2011. Dulu, radio termasuk media pemberitaan yang paling cepat. Kabar dari lapangan bisa langsung disampaikan ke masyarakat lewat telepon ke studio. Sekarang, meski media sosial sudah mengambil peran besar dalam penyebaran informasi, radio tetap beradaptasi lewat layanan streaming dan berbagai platform digital.

Bedanya radio dan podcast ada di cara penyajian dan interaksinya. Podcast biasanya berupa rekaman dengan topik spesifik yang bisa diputar sesuka hati. Radio, di sisi lain, menyajikan siaran langsung yang menyesuaikan situasi terkini. Pendengarnya pun bisa ikut nimbrung langsung lewat WhatsApp, media sosial, sampai telepon ke studio.

Pak Farid punya perumpamaan menarik nih. Platform streaming itu kayak minimarket: kita memilih sendiri konten yang mau dinikmati. Sedangkan radio kayak warung kopi, ada suasana kebersamaan lewat sapaan penyiar dan obrolan bareng pendengar. Kedekatan inilah yang jadi salah satu kekuatan radio.

Biar tetap bertahan, Pak Farid menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi radio. Terhubung dengan media sosial, layanan streaming, dan podcast bisa memperluas jangkauan pendengar, terutama anak muda. Menurutnya, siaran langsung dan kehangatan interaksi antarmanusia tetap jadi pembeda radio dari konten audio rekaman.

Skill di dunia radio juga masih nyambung banget sama kebutuhan industri komunikasi sekarang. Berbicara di depan mikrofon, wawancara langsung, membaca situasi pendengar, dan menyampaikan informasi dengan cara yang menarik itu dibutuhkan, baik buat bikin podcast maupun konten digital lainnya.

Buat kalian para Fikomers yang ingin berkarir di industri audio, Pak Farid menyarankan buat belajar penyuntingan audio, live streaming, dan bikin konten media sosial. Selain itu, perluas wawasan, peka sama isu terkini, dan mulai bangun portofolio lewat podcast atau siaran langsung pakai perangkat sederhana dulu juga gak apa-apa.

Jadi, perkembangan digital nggak serta-merta bikin radio hilang, tapi justru mendorongnya buat terus beradaptasi. Radio dan podcast punya keunggulan masing-masing dan bisa saling melengkapi. Dengan tetap mempertahankan karakter siaran langsungnya sambil memanfaatkan teknologi digital, radio punya peluang besar buat terus berkembang dan membuka kesempatan baru buat generasi muda di dunia komunikasi. (AK)

Berita Terbaru

Agenda Mendatang

 

25

September

Alumni Gathering S2 Fikom Untar

1

Oktober

HUT ke-67 Universitas Tarumanagara

5-9

Oktober

Ujian Tengah Semester

12-16

Oktober

Pekan Praktisi

30 November – 4 Desember

Ujian Akhir Semester
Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Sarjana Ilmu Komunikasi, Kuliah Ilmu Komunikasi, Jakarta, Fikom Untar, Universitas Tarumanagara