Negeri Sembilan, 14 September 2026 – Perkembangan teknologi digital menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk mengenal, memahami, dan mengalami kebudayaan. Melalui media sosial, platform berbagi video, hingga pengalaman virtual, warisan budaya kini dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas tanpa terbatas pada ruang fisik. Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam Guest Lecture Session for Student Mobility Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar) dan INTI International University, Malaysia, yang mengangkat tema “Indonesia Cultural Heritage Goes Digital: Preserving, Promoting, and Experiencing Culture Through Technology.”
Kegiatan yang berlangsung di INTI International University, Negeri Sembilan, Malaysia, tersebut menghadirkan perspektif mengenai hubungan antara budaya, komunikasi, dan teknologi digital. Melalui sesi ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai bagaimana media digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat global sekaligus membangun pemaknaan terhadap identitas budaya di tengah perkembangan teknologi.

“Digital technology does not replace culture. Instead, it creates new spaces where culture can survive, develop, and communicate globally,” ujar Dr. Diah yang akrab disapa Sandra.
Menurut Dr. Diah, digitalisasi turut mengubah cara masyarakat memperoleh pengalaman terhadap suatu budaya. Jika sebelumnya pengalaman budaya lebih banyak diperoleh melalui kunjungan langsung ke destinasi wisata, festival, atau interaksi dengan komunitas lokal, kini proses tersebut dapat dimulai melalui media digital. Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat mengenal budaya, membentuk persepsi terhadap suatu tempat, hingga membangun ekspektasi sebelum memperoleh pengalaman secara langsung.
Representasi budaya di ruang digital menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana publik memahami identitas dan nilai suatu budaya. Dalam konteks tersebut, isu autentisitas juga menjadi perhatian karena pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal, nilai budaya, keberlanjutan praktik, serta pengalaman pengunjung. Pembahasan mengenai autentisitas menunjukkan bahwa digitalisasi budaya merupakan proses yang melibatkan berbagai pihak. Masyarakat lokal, pengelola destinasi wisata, influencer, hingga wisatawan memiliki peran dalam membentuk bagaimana budaya direpresentasikan dan dimaknai di ruang digital. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi tidak hanya perlu dilihat sebagai strategi promosi, tetapi juga sebagai bagian dari proses komunikasi yang dapat memengaruhi identitas dan persepsi publik terhadap warisan budaya.

Pada akhir kegiatan, mahasiswa diajak melihat berbagai peluang penelitian komunikasi yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, seperti peran TikTok dalam membentuk identitas budaya generasi muda, influencer sebagai cultural ambassador, penggunaan artificial intelligence dalam cultural storytelling, strategi digital branding desa wisata, serta pemanfaatan media digital untuk mendukung pelestarian warisan budaya. Kegiatan Guest Lecture Session for Student Mobility ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Fikom Untar memperkuat pertukaran akademik internasional dan memperluas wawasan mahasiswa mengenai komunikasi budaya di era digital. Melalui komunikasi yang terus berkembang, warisan budaya Indonesia tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga diperkenalkan dan dimaknai oleh masyarakat global. (KG)
