Jakarta, 30 Oktober 2026 – Interaksi manusia dan kepercayaan digital menjadi isu penting dalam kajian komunikasi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Topik tersebut dibahas oleh Prof. Walton dari INTI International University, Malaysia, melalui pemaparan bertajuk “Research Communication in the Age of AI: Understanding Human Interaction and Digital Trust”.
Dalam pemaparannya, Prof. Walton mengangkat hubungan antara perkembangan teknologi AI dan dinamika komunikasi manusia. Pemanfaatan AI dalam berbagai aktivitas, mulai dari percakapan melalui chatbot, pembuatan konten, hingga layanan pelanggan, membuka peluang penelitian baru mengenai cara individu memahami pesan, menilai kredibilitas informasi, serta membangun kepercayaan terhadap teknologi digital.
Lebih dari sekadar proses penyampaian informasi, interaksi manusia juga melibatkan emosi, konteks budaya, pengalaman, dan hubungan sosial. Oleh karena itu, komunikasi yang melibatkan AI perlu dikaji dengan memperhatikan pengalaman penggunanya. Misalnya, respons AI yang terdengar ramah dapat menjadi objek penelitian untuk memahami bagaimana manusia memaknai empati dan kedekatan dalam berinteraksi dengan sistem digital.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kepercayaan digital (digital trust). Kejelasan sumber informasi, transparansi penggunaan AI, serta akurasi pesan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kepercayaan audiens. Dalam konteks ini, kemampuan untuk menilai informasi secara kritis tetap diperlukan agar pesan yang disampaikan tidak hanya tampak meyakinkan, tetapi juga memiliki dasar dan sumber yang kredibel.
Bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar), pembahasan ini membuka berbagai peluang untuk mengembangkan penelitian komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Sejumlah topik yang dapat dieksplorasi antara lain persepsi audiens terhadap konten yang dihasilkan AI, pengalaman berkomunikasi dengan chatbot, autentisitas pesan merek, hingga keterbukaan diri dalam interaksi digital.
Selain itu, pemanfaatan AI sebagai alat bantu penelitian juga perlu diimbangi dengan tanggung jawab akademik. Peneliti tetap harus memastikan keakuratan sumber, menjaga privasi dan data partisipan, serta cermat dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengesampingkan prinsip etika dan integritas akademik.
Melalui pembahasan ini, mahasiswa Fikom Untar diajak untuk melihat perkembangan AI bukan hanya sebagai kemajuan teknologi, tetapi juga sebagai fenomena komunikasi yang menghadirkan berbagai peluang dan tantangan penelitian. Pemahaman mengenai interaksi manusia, pemaknaan pesan, dan kepercayaan digital diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghasilkan riset komunikasi yang kritis, relevan, dan bertanggung jawab di era AI. (SA/FD)

