Malaysia, 14 September 2026 – Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar), Dr. Ahmad “Alex” Junaidi, menjadi visiting lecturer di INTI International University, Malaysia, pada Senin (14/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program student mobility yang diikuti oleh 17 mahasiswa Fikom Untar selama satu minggu di Malaysia.
Pada hari pertama program, Alex menyampaikan kuliah bertajuk “Who Is a Journalist Now? Journalism in the Age of AI”. Kuliah tersebut membahas perubahan ekosistem berita, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta tantangan yang dihadapi profesi jurnalis di masa depan.
Dalam paparannya, Alex menjelaskan bahwa ekosistem berita telah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya informasi bergerak secara relatif linear dari sumber informasi kepada jurnalis, editor, organisasi berita, hingga khalayak, kini proses tersebut melibatkan berbagai pihak dan teknologi, termasuk platform digital, warga, influencer, politisi, jurnalis, algoritma, dan AI.
“Jurnalis sekarang bukan lagi satu-satunya pihak yang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi kepada publik. Pertanyaannya kemudian bukan hanya siapa yang dapat disebut jurnalis, tetapi apa yang membuat sebuah informasi dapat disebut sebagai produk jurnalistik,” kata Alex.
Ia juga menyoroti pergeseran pola konsumsi berita dari media konvensional dan situs berita menuju media sosial serta platform video. Perubahan tersebut terlihat baik di Malaysia maupun Indonesia.
Berdasarkan Reuters Institute Digital News Report 2026 yang menjadi salah satu rujukan dalam presentasi, tingkat kepercayaan terhadap berita tercatat sebesar 30 persen di Malaysia dan 32 persen di Indonesia. Sementara itu, persentase masyarakat yang membayar berita daring masing-masing mencapai 18 persen di Malaysia dan 17 persen di Indonesia.
Di Malaysia, penggunaan media cetak sebagai sumber berita menurun dari 45 persen pada 2017 menjadi 14 persen pada 2026. Penggunaan televisi juga mengalami penurunan, dari sekitar 54 persen satu dekade lalu menjadi 36 persen. Sementara di Indonesia, sebanyak 64 persen responden mendapatkan berita melalui platform sosial, termasuk WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok.
Perubahan ekosistem media tersebut turut melahirkan pemain baru dalam produksi dan distribusi informasi. Sekitar sepertiga masyarakat Malaysia mengakses konten berita dari influencer dan kreator konten yang berfokus pada berita. Di Indonesia, perkembangan media digital juga ditandai dengan kemunculan apa yang dikenal sebagai “homeless media”, yaitu media yang terutama tumbuh dan mendistribusikan kontennya melalui platform digital.
Alex mengatakan bahwa AI semakin berperan dalam cara masyarakat mencari dan mengonsumsi berita. Secara global, 10 persen responden menggunakan chatbot AI untuk mengakses berita setiap minggu. Angka tersebut meningkat menjadi 16 persen pada kelompok usia di bawah 35 tahun. Sementara itu, 42 persen pengguna AI untuk berita mengapresiasi kemampuan teknologi tersebut dalam menjawab pertanyaan lanjutan.
Meski demikian, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap jurnalis. AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan, pengolahan data, peringkasan informasi, dan pekerjaan rutin. Di sisi lain, manusia tetap memiliki peran penting dalam penilaian jurnalistik, wawancara, dan empati.
Menurut Alex, yang juga merupakan mantan jurnalis, tantangan terbesar bagi mahasiswa komunikasi dan calon jurnalis bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi baru, tetapi bagaimana mempertahankan nilai-nilai dasar jurnalistik di tengah perubahan teknologi.
“Jurnalisme boleh berubah, tetapi tujuannya tidak seharusnya berubah. Jurnalisme tetap harus menawarkan sesuatu yang semakin langka di tengah banjir informasi, yaitu informasi yang terverifikasi, konteks, akuntabilitas, dan kepentingan publik,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penekanan utama pada bagian akhir kuliah yang disampaikan kepada para mahasiswa INTI International University.
Selain menjadi visiting lecturer, Alex juga mendampingi 17 mahasiswa Fikom Untar yang mengikuti program student mobility selama satu minggu di INTI International University. Para mahasiswa akan mengikuti berbagai kegiatan akademik serta berinteraksi dengan lingkungan internasional sebagai bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar dan membangun jejaring lintas negara.
Program ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman akademik internasional kepada mahasiswa, tetapi juga memperluas wawasan mereka mengenai perkembangan industri komunikasi dan media di kawasan, khususnya terkait perubahan jurnalisme di tengah pertumbuhan platform digital dan AI. (AJ/FD)


