Bali, 19–20 September 2026 — Dua mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar) angkatan 2025, Kayla Giovanna dan Vanesa, berhasil mengharumkan nama almamater melalui ajang National Competition Essay yang diselenggarakan oleh PRISMA bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Udayana di Bali.
Dalam kompetisi tersebut, Kayla dan Vanesa memilih subtema Pariwisata dan Budaya dari 9 subtema lainnya. Mereka mengangkat inovasi mengenai tari Barong yang dipadukan dengan konsep experiential tourism dan edukasi. Gagasan ini berangkat dari perhatian terhadap tantangan komodifikasi budaya yang dapat membuat suatu kesenian tradisional hanya dipandang sebagai tontonan, tanpa pemahaman yang mendalam mengenai nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Melalui inovasi yang disebut TAPEL, Kayla dan Vanesa menawarkan pendekatan yang memungkinkan wisatawan tidak hanya menyaksikan pertunjukan Barong, tetapi juga memperoleh pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai filosofi, nilai budaya, serta makna di balik kesenian tersebut. Pendekatan berbasis pengalaman dan edukasi ini diharapkan dapat turut mendukung pelestarian budaya Barong sekaligus menjaga pemahaman masyarakat terhadap identitas dan nilai budaya yang menyertainya.
Gagasan tersebut berhasil membawa Kayla dan Vanesa meraih tiga pencapaian dalam kompetisi, yaitu:
- Gold Medal – Kategori Pariwisata Budaya
- Favorite Poster – Kategori Pariwisata Budaya
- Juara Umum Harapan 2 – Bersaing dengan seluruh sub tema kompetisi
Prestasi Juara Umum Harapan 2 diraih setelah Kayla dan Vanesa bersaing dengan peserta dari 9 subtema, yang secara keseluruhan diikuti oleh 446 finalis dari 19 provinsi di Indonesia.
Bagi Kayla dan Vanesa, pencapaian ini tidak hanya menjadi sebuah prestasi kompetitif, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan gagasan mengenai bagaimana budaya dapat tetap hidup dan dipahami di tengah perkembangan pariwisata dan perubahan zaman.

“Masyarakat saat ini hidup di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat di berbagai sektor, sehingga dibutuhkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara cepat sekaligus berkelanjutan,” ujarnya.
Keberhasilan Kayla dan Vanesa menjadi salah satu contoh kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan gagasan kreatif untuk menjawab tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan industri pariwisata. Dengan menggabungkan komunikasi, edukasi, pengalaman wisata, dan nilai budaya, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menjaga agar budaya tradisional tetap relevan dan dipahami oleh generasi masa kini. (KG)
