Menelisik Tantangan Jurnalis dalam Meliputi Situasi Bencana bersama Dr. Ahmad Junaidi

Jakarta, 29 September 2026 — Peliputan bencana menjadi salah satu tantangan bagi jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistik. Tidak hanya dituntut menyampaikan informasi secara cepat dan akurat, jurnalis juga perlu memperhatikan kondisi psikologis korban serta memastikan keselamatan selama berada di lokasi bencana.

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu dosen Jurnalistik di Fikom Untar, Dr. Ahmad Junaidi, S.S., M.Si., yang memiliki pengalaman selama 25 tahun sebagai jurnalis, sejak 1996 hingga 2021. Salah satu pengalaman peliputannya adalah ketika meliput kondisi pascatsunami Aceh beberapa hari setelah bencana terjadi.

Menurutnya, proses wawancara dengan korban bencana perlu dilakukan secara hati-hati karena sebagian korban masih berada dalam kondisi berduka akibat kehilangan keluarga maupun tempat tinggal.

“Mesti hati-hati mewawancarai korban bencana yang sedih kehilangan keluarga dan rumahnya rusak,” ujarnya.

Sebelum melakukan peliputan di lokasi bencana, jurnalis juga perlu mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menunjang aktivitas selama di lapangan. Beberapa di antaranya adalah obat-obatan pribadi, pakaian secukupnya, dan uang.

Selain persiapan pribadi, memperoleh informasi yang akurat menjadi bagian penting dalam peliputan bencana. Pak Ahmad menjelaskan bahwa jurnalis dapat memperoleh informasi melalui pihak berwenang, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemimpin lokal, serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana.

Dalam situasi bencana, kecepatan kerja jurnalis juga perlu disesuaikan dengan karakter berita yang akan disampaikan. Berita singkat membutuhkan proses kerja yang cepat, sedangkan berita mendalam atau feature memerlukan waktu lebih panjang untuk melakukan penggalian informasi.

“Untuk berita pendek harus cepat, tapi untuk berita mendalam feature harus dalam dan butuh waktu,” jelasnya.

Pak Ahmad juga menekankan pentingnya kepekaan dan empati bagi jurnalis yang melakukan peliputan bencana. Menurutnya, jurnalis perlu mendengarkan pengalaman masyarakat dan penyintas secara langsung, bukan hanya mengandalkan informasi dari pihak berwenang.

“Mesti sensitif pada korban atau penyintas, wawancara warga lokal, penyintas tidak hanya bergantung dari pejabat dan selain itu tentu persiapan perlengkapan keselamatan diri dalam peliputan,” ujar Pak Ahmad.

Melalui pengalaman tersebut, peliputan bencana menunjukkan bahwa jurnalis tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga perlu mengedepankan akurasi, empati, dan keselamatan selama menjalankan tugas di lapangan. (FD)

Berita Terbaru

Agenda Mendatang

 

25

September

Alumni Gathering S2 Fikom Untar

1

Oktober

HUT ke-67 Universitas Tarumanagara

5-9

Oktober

Ujian Tengah Semester

12-16

Oktober

Pekan Praktisi

30 November – 4 Desember

Ujian Akhir Semester
Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Sarjana Ilmu Komunikasi, Kuliah Ilmu Komunikasi, Jakarta, Fikom Untar, Universitas Tarumanagara