Jakarta, 1 September 2026 — Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda menjadi kompetensi penting bagi generasi muda di tengah meningkatnya mobilitas pendidikan, peluang profesional, dan interaksi sosial dalam skala global. Pemahaman terhadap budaya, pola komunikasi, nilai-nilai sosial, serta kebiasaan setempat menjadi dasar penting bagi individu untuk membangun relasi dan berinteraksi secara efektif dalam lingkungan multikultural.
Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam sesi berbagi yang diselenggarakan di Jakarta pada 1 September 2026 dengan menghadirkan Dimas Harris Sean Keefe, yang memiliki pengalaman akademik dan profesional di Korea Selatan. Berdasarkan pengalaman lintas budayanya, Dimas membagikan wawasan mengenai proses adaptasi budaya serta berbagai tantangan yang mungkin dihadapi ketika seseorang berada di lingkungan dengan karakteristik sosial dan budaya yang berbeda dari negara asalnya.
Dimas menekankan bahwa memasuki lingkungan baru membutuhkan keterbukaan untuk belajar dan memahami perbedaan. Perbedaan dalam menyampaikan pendapat, membangun hubungan interpersonal, menunjukkan rasa hormat, serta menjalankan kegiatan akademik dan profesional dapat menjadi pengalaman baru yang memerlukan proses penyesuaian. Kemampuan ini semakin penting seiring terbukanya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program pertukaran, melanjutkan studi di luar negeri, menghadiri konferensi internasional, atau membangun jejaring dengan masyarakat dari berbagai negara.
“Perbedaan bukanlah lawan dari persatuan. Persatuan yang matang lahir ketika perbedaan dapat hadir tanpa rasa takut, didengar tanpa prasangka, dan dijembatani tanpa mengorbankan martabat,” ujar Dimas.
Salah satu pelajaran penting dari pengalaman lintas budaya adalah bahwa adaptasi tidak berarti meninggalkan identitas budaya seseorang. Lingkungan internasional justru dapat menjadi ruang bagi individu untuk memahami identitasnya dengan lebih baik sekaligus memperkenalkan budaya asalnya kepada masyarakat global. Dalam konteks ini, komunikasi antarbudaya dapat menjadi sarana untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman di antara berbagai budaya.
Pendidikan tinggi semakin diarahkan untuk membentuk lulusan yang mampu berkompetisi sekaligus berkolaborasi secara internasional. Konsep sebagai warga dunia menjadi semakin relevan karena tantangan dan peluang di era modern tidak lagi terbatas oleh batas-batas geografis. Dimas mendorong generasi muda untuk keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan berbagai peluang internasional. Belajar serta berinteraksi dengan masyarakat dari negara lain dapat memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan membangun jejaring yang bermanfaat bagi perkembangan akademik maupun profesional.
Menjadi warga dunia tidak hanya berarti mampu berkomunikasi dalam bahasa asing atau pernah mengunjungi negara lain. Lebih dari itu, hal tersebut membutuhkan kemampuan untuk menghargai keberagaman, mempertahankan pikiran yang terbuka, memahami perspektif orang lain, serta berkolaborasi dengan individu dari latar belakang budaya yang berbeda. Pada akhirnya, pengalaman lintas budaya tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai negara lain, tetapi juga menjadi proses untuk mengenal diri sendiri. Berada di lingkungan yang berbeda mendorong individu untuk merefleksikan kebiasaan, cara berpikir, dan pola komunikasi yang sebelumnya mungkin dianggap biasa. Proses ini dapat membentuk pribadi yang lebih adaptif, reflektif, dan terbuka terhadap keberagaman. (SA/FD)


